![]() |
| Momen Gus Thuba saat menyerahkan bendera pataka dalam deklarasi Yakuza Maneges di Kediri. (Dok. Istimewa) |
Ardy Hanakaru – Sebuah pemandangan tidak biasa terjadi di Kota Kediri baru-baru ini. Media sosial sempat dihebohkan dengan foto-foto sekelompok pria berpakaian serba hitam berdiri gagah di bawah logo naga raksasa bertuliskan "YAKUZA".
Bagi yang belum tahu, Anda mungkin mengira ini adalah cabang sindikat kriminal asal Jepang. Namun, faktanya justru 180 derajat berbeda. Ini adalah momen deklarasi akbar Yakuza Maneges, sebuah organisasi kemasyarakatan (ormas) sosial dan dakwah inklusif yang resmi lahir pada Sabtu, 9 Mei 2026 di Ballroom Hotel Bukit Daun, Kediri.
Lalu, apa sebenarnya Yakuza Maneges ini dan siapa sosok di baliknya? Mari kita bedah bersama.
Bukan Gangster, Ini Arti Singkatan "YAKUZA"
Nama "Yakuza" yang digunakan oleh ormas ini bukanlah merujuk pada jaringan mafia, melainkan sebuah akronim spiritual yang mendalam. Yakuza di sini merupakan singkatan dari:
"Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi"
Inisiator sekaligus pendiri gerakan ini adalah Thuba Topo Broto Maneges, atau yang akrab disapa Gus Thuba. Ia menegaskan bahwa Yakuza Maneges didirikan sebagai wadah transformasi sosial. Target utamanya adalah merangkul kaum marjinal, masyarakat jalanan, mantan narapidana, hingga komunitas yang sering dijuluki santri "jalur kiri" agar bisa memperbaiki masa lalu dan kembali ke jalan yang benar.
Mengusung jargon yang cukup sangar, "Gas Tanpa Ampun", ormas ini berkomitmen kuat pada gerakan kemanusiaan, keadilan sosial, dan program penegakan restorative justice di masyarakat.
Meneruskan Jalur Dakwah Kultural Gus Miek
Gerakan Yakuza Maneges tidak muncul begitu saja. Ormas ini bergerak secara kultural di bawah naungan Majelis Sema'an Al-Qur'an dan Dzikrul Ghofilin.
Bagi masyarakat Jawa Timur, majelis zikir ini tentu sudah tidak asing lagi. Majelis tersebut didirikan oleh ulama kharismatik legendaris asal Kediri, almarhum KH Hamim Jazuli (Gus Miek). Sebagai cucu kandung dari Gus Miek, Gus Thuba kini meneruskan metodologi dakwah kultural sang kakek—yaitu berdakwah di tempat-tempat yang tidak biasa dan merangkul kalangan yang sering terpinggirkan tanpa sedikit pun menghakimi mereka.
Momen Istimewa Penyerahan Pataka
Foto yang beredar luas di internet menampilkan momen paling sakral dalam deklarasi tersebut, yaitu prosesi serah terima bendera pataka organisasi. Dalam foto tersebut, tampak Gus Thuba bersama jajaran pengurus pusat memegang tiang bendera di depan layar besar berlogo naga putih.
Dokumentasi ini menjadi bukti sejarah resminya pergerakan Yakuza Maneges di Indonesia. Acara ini juga dihadiri dan mendapat apresiasi langsung dari Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, bersama perwakilan aparat hukum setempat yang berharap ormas ini dapat bersinergi menjaga keamanan dan kondusivitas wilayah.
Kehadiran Yakuza Maneges membuktikan bahwa perubahan penataan sosial bisa lahir dari mana saja, bahkan dari sebuah nama yang awalnya ditakuti, kini diubah menjadi sebuah jalan spiritual yang merangkul sesama.
Bagaimana pendapat Anda tentang pergerakan ormas baru ini? Tulis di kolom komentar ya!

0 Komentar